Home > Berita Terbaru
Melalui Pondok Ramadan, KUA Ngawi Laksanakan BRUS dalam Program The Most KUA - Move for Sakinah Maslahat
Penulis: Son Haji Saputra - 26 Februari 2026
Home > Berita Terbaru
Melalui Pondok Ramadan, KUA Ngawi Laksanakan BRUS dalam Program The Most KUA - Move for Sakinah Maslahat
Penulis: Son Haji Saputra - 26 Februari 2026
Foto: Dokumen Pribadi
Dalam rangka implementasi Program The Most KUA – Move for Sakinah Maslahat, KUA Ngawi menyelenggarakan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang diikuti oleh 85 peserta usia 14–19 tahun di SMP Ma’arif Ngawi. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan momentum Pondok Ramadan, sehingga pembinaan tidak hanya bernuansa edukatif, tetapi juga sarat dengan penguatan nilai spiritual dan pembentukan karakter di bulan suci. Melalui sinergi tersebut, KUA Ngawi berupaya menghadirkan pembinaan yang relevan dengan kebutuhan remaja sekaligus selaras dengan suasana pembinaan keagamaan di sekolah.
Bimbingan difasilitasi oleh Kepala KUA Ngawi bersama para Penghulu dan Penyuluh Agama Islam. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada pencegahan perkawinan anak, pembentukan karakter dan pengendalian diri, kesadaran terhadap bahaya pergaulan bebas, serta pentingnya merancang masa depan melalui pendidikan dan kesiapan pribadi yang matang. Dalam penyampaian materi, peserta juga diajak meneladani figur-figur inspiratif, salah satunya Prof. Nasaruddin Umar selaku Menteri Agama RI. Beliau dikenal sebagai sosok akademisi dan ulama yang menempuh proses pendidikan panjang, memiliki komitmen kuat terhadap moderasi beragama, serta konsisten mengedepankan nilai keilmuan, integritas, dan pengabdian. Keteladanan beliau menjadi contoh bahwa kesuksesan dibangun melalui kesungguhan belajar, kedewasaan berpikir, dan kematangan dalam mengambil keputusan hidup.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung partisipatif dengan diskusi dan sesi tanya jawab yang dinamis. Para peserta diberi ruang untuk menyampaikan pandangan, pengalaman, dan tantangan yang mereka hadapi dalam pergaulan maupun dalam merencanakan masa depan. Dialog tersebut menjadi sarana refleksi bersama agar para remaja lebih sadar bahwa setiap pilihan hidup memerlukan pertimbangan matang dan tanggung jawab.
Sebagai bentuk penguatan komitmen, di akhir sesi, peserta juga diajak untuk menuliskan kontrak perjanjian untuk tidak menikah di bawah usia 19 tahun serta mengupayakan usia ideal menikah, yaitu minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Tulisan tersebut menjadi penugasan individu untuk ditempel di dinding kamar masing-masing sebagai pengingat harian atas janji yang telah dibuat. Dengan pendekatan ini, diharapkan pembinaan yang diberikan tidak berhenti pada forum kegiatan, tetapi terus hidup dalam kesadaran pribadi para remaja sebagai bekal menuju masa depan yang lebih matang dan berkualitas.
Melalui kegiatan ini, KUA Ngawi menegaskan komitmennya untuk terus hadir di lingkungan pendidikan sebagai mitra strategis dalam pembinaan generasi muda. Sinergi antara KUA dan satuan pendidikan melalui momentum Pondok Ramadan menjadi langkah konkret dalam membangun kesadaran kolektif bahwa kesiapan berkeluarga tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan, pembentukan karakter, dan kematangan usia. Diharapkan, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki arah hidup yang lebih jelas serta komitmen kuat untuk meraih masa depan yang lebih cerah.