Home > Berita Terbaru
KUA Ngawi Implementasikan Program The Most KUA - Move for Sakinah Maslahat di Majelis Taklim
Penulis: Son Haji Saputra - 25 Februari 2026
Home > Berita Terbaru
KUA Ngawi Implementasikan Program The Most KUA - Move for Sakinah Maslahat di Majelis Taklim
Penulis: Son Haji Saputra - 25 Februari 2026
Foto: Dokumen Pribadi
KUA Ngawi terus mengimplementasikan Program The Most KUA – Move for Sakinah Maslahat pada kelompok muslimah di Majelis Taklim Al-Mar’ah, Beran, Ngawi. Sebanyak 25 jamaah mengikuti kegiatan ini dengan antusias, sebagai wujud komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas kehidupan rumah tangga melalui pembinaan jemput bola yang berdampak langsung kepada masyarakat. Program ini diarahkan untuk menguatkan ketahanan keluarga yang berlandaskan nilai-nilai sakinah maslahat dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Pembinaan kali ini merupakan bentuk kolaborasi internal antara Rias Sri Ujiwati dan M. Nurrokhman Al Hakim selaku Penyuluh Agama Islam dengan Son Haji Saputra dan Wage Agustino Lifanto selaku Penghulu. Materi yang disampaikan mencakup penguatan nilai-nilai sakinah maslahat, komunikasi sehat dan resolusi konflik dalam keluarga, serta evaluasi kebiasaan harian secara reflektif sebagai upaya membangun hubungan yang lebih berkualitas, sesuai dengan standar pedoman kurikulum program The Most KUA. Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif sehingga peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembinaan.
Dalam sesi refleksi, peserta diajak memahami dan mengulas lima fase dalam kehidupan rumah tangga, yaitu fase euphoria, fase pain, fase struggle, fase survive, dan fase bless. Fase euphoria merupakan masa awal pernikahan yang penuh kebahagiaan dan harapan, yaitu ketika setelah pernikahan sampai kurang lebih satu tahun pertama dimana yang terlihat hanya keindahan dalam pernikahan (fase berbunga-bunga). Fase pain ditandai dengan mulai munculnya perbedaan, kekurangan, dan gesekan, yaitu ketika kekurangan dan kelemahan pasangan yang sebenarnya mulai terlihat.
Kemudian fase struggle adalah proses perjuangan pasangan dalam menyesuaikan diri dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi, yaitu ketika suami dan istri sama-sama berjuang dalam pernikahan, meskipun seringkali dengan cara yang berbeda sehingga timbul berbagai konflik. Lalu, fase survive yang menggambarkan kemampuan bertahan dengan kedewasaan emosional dan komitmen yang semakin kuat, dan fase bless yang merupakan fase kematangan, yaitu ketika pasangan saling mampu merasakan ketenangan, keberkahan, keridhoan, serta makna mendalam dalam kehidupan rumah tangga.
Diskusi dan sesi tanya jawab berlangsung dinamis, terutama saat membahas pengalaman nyata para peserta dalam menghadapi fase-fase tersebut. Para peserta berbagi refleksi tentang tantangan komunikasi, pengelolaan emosi, serta cara menjaga keharmonisan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan. Di sinilah peran Penghulu dan Penyuluh menjadi penetral sekaligus pemberi perspektif yang konstruktif dalam setiap dinamika diskusi. Dengan pendekatan yang komunikatif dan solutif, para fasilitator memberikan gambaran praktis mengenai manajemen keluarga, mulai dari pembagian peran suami istri, pengelolaan waktu, penguatan komunikasi empatik, hingga pentingnya musyawarah dalam pengambilan keputusan. Penekanan juga diberikan pada pentingnya membangun kebiasaan harian yang positif sebagai fondasi ketahanan keluarga.
Melalui forum yang terbuka dan reflektif tersebut, peserta memperoleh pemahaman bahwa setiap fase dalam rumah tangga merupakan proses yang wajar dan dapat dilalui dengan kedewasaan, komitmen, serta landasan nilai-nilai keagamaan. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang belajar sesaat, tetapi juga menjadi titik penguatan berkelanjutan bagi jamaah majelis taklim dalam membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan penuh keberkahan.